Tuhan, lihatlah aku kuharus bergelut dengan sel-sel kanker yang mulai mengerogoti tubuhku hidupku setengah monster saat jarum-jarum suntik itu mulai menyakiti tubuhku hanya kepasrahan yang ada panas yang menjalar…

pada paras kutangkap mendung gumpalan gulana tak jua purna meski telah selaksa kidung coba silih kerisauan dinda rinai hujan basahi bumi sentuhku harap duka kan asat andai kumampu peran mentari…

separuh mimpi separuh nyata parasmu hadir kuak pesona merasuki ruang hati telah berwarsa terkungkung sunyi dalam bingkai maya indrawi merajut sutera kenangan jingga libat jalinan kalbu manusiawi ubah gulana binar…

  coba tunjukkan padaku satu nama siapa yang kau anggap paling bisa jadi pengemban amanah rakyatnya dan tak pernah merasa dirinya raja bila kau merasa punya hak suara berpikirlah dulu…

pernahkah kau sejenak sandarkan kepala menatap warna biru terhampar diangkasa melepas segala beban dan hasrat mendera mengalir begitu deras tanpa pernah terasa sudikah kau sesaat saja luangkan waktumu bersenandung bersama…

tentang kamu rikma kamu legam kemilau sentuh hasrat aku gerai semerbak harum nawastu buat aku berandai-andai tentang kamu mata kamu tajam berbinar tatap hasrat aku kagumi kamu asa kita menyatu…

sentuh aku … biarkan ujung jari kamu membelai lembut melintas otot-otot dada aku biarkan gerakan manja membalut pada bekas luka pertempuran sendu sentuh aku … bibir kamu hangat penuh gerakkan…

bagaimana bisa hati ini jatuh kedalam pelukanmu kala kuterjaga dari lelap tidurku sepanjang malam pada setiap apa yang sedang aku lakukan mengapa aku hanya bisa menatap indah diwajahmu bila kau…

puisi sederhana aku tulis untukmu sebagai pengganti cinta sederhana dari seorang lelaki hijau yang lugu yang dulu tak mampu sampaikan cerita memandang wajahmu adalah anugerah tak kan pernah hilang dari…