Home / 2015 / March

Monthly Archives: March 2015

Setelah Waktu Fajar Telah Memanggil

Setelah Waktu Fajar Telah Memanggil Puisi : Edy Priyatna Sore nan sunyi memberi gelisah saat rembulan membentuk sabit setelah menahan kerinduan pada bunda dan buah hati keluarga merubah diri menjadi pilu kesedihan melekat tanpa terasa Air mata pun terus jatuh ...

Read More »

Tenggelam di Dasar Samudera Kesedihan

bersama hujan aku menyusuri malam di sela detik waktu yang berjalan pelan kusandarkan asa di dinding yang diam kutembus ranah langit merengkuh bulan indah raut wajahmu merayap di atas langit kamar seiring dendang ilalang yang beku di pelataran tetes air ...

Read More »

“BIARKAN AKU!”

Biarkan aku berlari tanpa henti mencari dan terus mencari meski (kesannya) tanpa pasti hingga aku yakin sendiri.   Biarkan aku berhenti sejenak melepas penat Hidup ini memang tak selalu enak penuh tuntutan agar jangan kalah cepat.   Biarkan aku mengikuti ...

Read More »

Tak Bosan

Tak Bosan Puisi : Edy Priyatna Tak bosan mataku melihat diri sendiri sementara jari-jari tangan terus menari memilih huruf-huruf hidup dan mati otakku selalu berpikir tanpa putus asa untuk mencari kata-kata merangkai keindahan Tak bosan mataku melirik jam dinding yang ...

Read More »

Mengukir Asa

Berpacu dengan waktu saat pagi mulai merekah Kelopak-kelopak harapan mulai terbit saat mulai kuuntai sampah-sampah satu persatu Detak –detak waktu berlalu saat mentari mulai ada di atas kepala…. Kembali kurajut sampah-sampah menjadi bahan kerajinan tangan… Banyak orang yang angkuhkan rasa ...

Read More »

“BANGUNKAN AKU!”

Bangunkan aku, sayang, jika aku tidur terlalu lelap. Masih banyak yang harus kita kerjakan. Semoga semangat ini tidak lekas menguap.   Bangunkan aku, sayang, jika aku masih enggan beranjak. Jangan biarkan aku membuat waktu terbuang. Semoga aku masih bisa selalu ...

Read More »

“HARI ITU…”

Hari itu terlalu indah. Mengapa kalian harus merusaknya? Ya, Tuhan – kami lelah. Mau sampai kapan kalian bertingkah bak ratu drama?   Hari itu terlalu indah. Dia hanya butuh tersenyum, aku ingin merasa ceria. Apa boleh buat, damai itu harus ...

Read More »

Wajah Muram Jakarta

  selamat pagi Jakarta langit kelabu memayungi pelataranmu sementara rintik hujan kini perlahan luruh basahi wajah muram anak-anak jalanan bibirnya membiru menahan luka hati menatap kumbang dan belalang beradu taji mengapa kau diam saat melihat mereka bertempur apakah karena suara ...

Read More »

Tetesan Air

Setetes air sumber kehidupan…. Kini hilang entah kemana Hanya ada air yang menghitam oleh zat-zat kimia Penuh debu Mengalir membawa duka di hilir Entah sampai kapan Semua ini berhenti Warnamu tak sejernih dulu lagi Hanya sepi yang menemanimu Diiringi lagu ...

Read More »

Sajak Cinta

Sajak Cinta Puisi : Edy Priyatna Bergerak merayap terbang tinggi ke angkasa menuju ujung langit mengabaikan ratusan hijab pada awal membantah kenyataan akhirnya berjalan tanpa kaki memandang bumi yang raib tak peduli yang kasatmata meneropong jauh keliling dunia menembus ruang-ruang ...

Read More »