sore yang sederhana matahari bersembunyi dibalik mega kusandarkan tubuhku di selembar batu bersama tatap mata menerawang jauh sepasang kepiting kecil berlari tinggalkan jejak di hamparan pasir sebagaimana dulu kita berada…

Jujur selalu? Ah, jangan naif begitu apalagi disertai kekasaran itu meski sesuai maumu hanya agar mereka tahu semua isi benakmu Persetan dengan sopan-santun palsu bagai munafik yang berlaku   Jujur…

Di satu sisi dunia, semua ceria jalani hidup seperti biasa di bawah cerahnya angkasa   Di sisi lainnya, banyak yang terluka kehilangan dan penuh duka lari dan sembunyi, bertaruh nyawa…

Mereka kerap hanya ada berkumpul saat bahagia Senyum dan polah si mungil di depan mereka ibarat tontonan belaka   Ada yang tidak puas selalu ingin lebih, bahkan hingga tandas Mengaku…

Waktu terus mengancam hariku Memaksaku untuk berlari lari Menggapai mimpi setelah ilusi Membuat aku membekukan hati Menggapai cita cita yang ku mau Meraih mimpi tinggi bersama dirimu Membuatmu tertawa dan…

Ada saat mulut berucap atau jemari lincah menari di atas papan ketik laptopmu atau ponsel terbaru   Apa yang keluar?   Pekerjaan? Gosip dan gunjingan? Informasi atau lelucon basi? Ekspresi…

Bagimu, aku terlalu banyak bicara meski berupa tulisan di social media Ah, bukan aku satu-satunya Sadar atau tidak, kamu juga sama Bagiku, aku punya hak serupa Sungguh, tak perlu kau baca…

mengapa bumi bergetar saat cahaya rembulan berpendar apakah mungkin kumbang pergi tinggalkan kelopak mawar mengapa jantungku berdebar bila namamu kudengar apakah mungkin bunga asmara sedang tumbuh mekar sedangkan kisah perjalanan…

Ancamanmu begitu nyata saat kau akhirnya di singgasana Wahai, Sang Raja Hati-hati dengan ucapanmu, Baginda walau kau merasa seputih istana Kau berharap tunduknya dunia hanya karena kau begitu kaya Kini…