Chairil Anwar dan Dua Hari Puisi di Indonesia

hari puisi
Chairil AnwarPejuang sastra, Chairil Anwar. (Foto: M. Faisal/kumparan)

Kumparan – Setahun lalu, 28 April 2016, lini masa media sosial ramai oleh perbincangan seputar puisi. Sebuah tagar bertuliskan “Selamat Hari Puisi Nasional” menjadi trending topik. Banyak netizen Indonesia yang kemudian menuliskan kalimat-kalimat puitis pada hari itu dengan membubuhkan tagar seragam.

Beberapa media daring menulis bahwa 28 April, tanggal wafatnya Chairil Anwar ini, memang diperingati sebagai Hari Puisi Nasional. Tapi apakah 28 April memang Hari Puisi Nasional?

Ramai Hari Puisi Nasional di Twitter. (Foto: Twitter)

Benar bahwa Chairil “Si Binatang Jalang” itu meninggal pada 28 April, tepatnya tahun 1949, di Jakarta. Namun begitu, sesungguhnya tak pernah ada penetapan ataupun deklarasi yang menjadikan tanggal kematian pelopor puisi modern Indonesia itu sebagai Hari Puisi Nasional.

Sampai saat ini belum diketahui persis siapa yang mencetuskan tanggal 28 April sebagai Hari Puisi Nasional.
Kejadian heboh yang terjadi di lini masa media sosial pada tahun lalu itu –bagaimana tahun ini?– barangkali semacam reaksi latah yang tak diketahui sebabnya, tapi merembet bagai efek domino.

Orang-orang boleh saja mengenang kematian pujangga asal Minang itu dengan cara menuliskan cara menuliskan kutipan-kutipan puisinya. Masyarakat pun sah-sah saja merayakan haul sastrawan pelopor Angkatan 45 itu dengan membicarakan segala hal yang berkaitan dengan puisi di jagat maya.

Mengenang karya-karya dan kehidupan lelaki kerempeng yang disebut-sebut sebagai penyair terbaik Tanah Air yang pernah ada itu bukan hal yang salah.
Namun, menganggap tanggal 28 April sebagai Hari Puisi Nasional adalah perbuatan yang tak berdasar, kalau bukan disebut keliru. Sebab, Indonesia sebenarnya telah memiliki Hari Puisi yang bernama Hari Puisi Indonesia. Tanggal 26 Juli yang ditetapkan sebagai Hari Puisi Indonesia pun sebenarnya masih tak lepas dari kehidupan “Si Binatang Jalang”. Pada 26 Juli 1922, Chairil Anwar dilahirkan di Medan.

Buku “Aku ini Binatang Jalang” karya Chairil Anwar (Foto: Rina Nurjanah/kumparan)

Pada 22 November 2012, sekitar 40 penyair dari seluruh Indonesia telah mendeklarasikan dan menetapkan tanggal kelahiran Chairil Anwar sebagai Hari Puisi Indonesia. Deklarasi dan penetapan itu dilakukan di Anjungan Idrus Tintin, Pekanbaru, Riau.

Isbedy Stiawan ZS sebagai salah satu penyair yang kala itu ikut mendeklarasikan Hari Puisi Indonesia, menceritakan kepada kumparan (kumparan.com), Senin (17/4), “Gagasan (pendeklarasian dan penetapan) itu dari Rida K. Liamsi didukung Agus R Sarjono, Asrizal Nur, Maman S Mahayana, Jamal D. Rahman, dan lainnya.”

Sejumlah penyair yang hadir antara lain Sutardji Calzoum Bachri (Jakarta) selaku presiden penyair Indonesia, D. Kemalawati (Aceh), Hasan Al Banna (Sumatera Utara), Iyut Fitra (Sumatera Barat), Rida K. Liamsi (Riau), Hasan Aspahani (Kepulauan Riau), Anwar Putra Bayu (Sumatera Selatan), Dimas Arika Mihardja (Jambi) dan Isbedy Stiawan ZS (Lampung).

Selain itu, ada nama-nama penyair lain seperti Gola Gong (Banten), Agus R Sarjono (Jakarta), Sosiawan Leak (Jawa Tengah), Pranita Dewi (Bali), Micky Hidayat (Kalimantan Selatan), Rahman Arge (Sulawesi Selatan), dan John Waromi (Papua).

Terkait penggagas deklarasi Hari Puisi Indonesia, Hasan Aspahani, Jumat (21/4), mengatakan, “Saya harus sebut Rida K. Liamsi. Beliau penyair senior.” Rida, ujar Hasan, sekarang tinggal di Pekanbaru dan menjadi pegusaha media. “Kecintaannya pada puisi, saya tahu persis. Kecintaannya pada sastra. Bahkan sampai hari ini dia masih menulis buku dan menerbitkan buku baru. Ini semacam kegelisahan Pak Rida, ‘Kita nggak punya (Hari Puisi) ya? Ya kalau nunggu, nunggu apa ya? Nunggu orang? Nggak, kita harus usahakan sendiri, kita harus deklarasikan sendiri,’” kata Hasan menirukan ucapan Rida.

Hasan menceritakan, Rida kemudian menyampaikan kegelisahannya itu kepada para penyair se-Indonesia dan mengundang mereka semua ke Pekanbaru untuk mendeklarasikan Hari Puisi Indonesia. “Teman-teman penyair di sana merasa kami perlu punya satu hari gitu, yang pada hari itu Indonesia merayakan dan mengingat puisi, seperti Hari Puisi Dunia yang UNESCO bikin.” Lebih lanjut, Hasan menjelaskan peran Rida.

“Beliau juga yang membuat Yayasan Hari Puisi. Yang mendanai Yayasan Hari Puisi dan mengusahakan dana untuk Anugerah Hari Puisi juga beliau. Kalau harus menyebut nama, siapa penggagas Hari Puisi Indonesia itu, yang merujuk pada hari lahirnya Chairil Anwar, ya Rida K. Liamsi.”

Hasan Aspahani. (Foto: Utomo Priyambodo/kumparan)

Isbedy menuturkan, selain deklarasi Hari Puisi Indonesia, pertemuan para penyair di Riau waktu itu juga diisi dengan pembacaan puisi. Rusli Zainal selaku gubernur Riau saat itu pun turut membacakan puisi bertajuk Cintaku Jauh di Pulau karya Chairil Anwar. Setelah dideklarasikan, peringatan Hari Puisi Indonesia mulai rutin digelar sejak 2013. Yayasan Hari Puisi lantas didirikan untuk mendukung konsistensi dan kontuinitas perayaan Hari Puisi Indonesia.

Yayasan itu telah menggelar perayaan Hari Puisi Indonesia setiap tahun dengan berbagai kegiatan, antara lain acara Anugerah Hari Puisi dengan memberikan penghargaan kepada buku puisi terbaik. “Kalau di Jakarta, ada sayembara buku puisi serta baca puisi para penyair dan pejabat. Begitu pun di daerah-daerah,” ujar Isbedy.

Hari Puisi Indonesia yang diperingati setiap 26 Juli itu, setidaknya, jelas asal mulanya dan jelas siapa penggagasnya.

Isbedy Stiawan ZS dan Sutardji Calzoum Bachri. (Foto: Anwar Putra Bayu/Facebook)

 

Berikut bunyi lengkap teks deklarasi Hari Puisi Indonesia pada 2012:

Teks Deklarasi Hari Puisi Indonesia

Indonesia dilahirkan oleh puisi yang ditulis secara bersama-sama oleh para pemuda dari berbagai wilayah tanah air. Puisi pendek itu adalah Sumpah Pemuda. Ia memberi dampak yang panjang dan luas bagi imajinasi dan kesadaran rakyat nusantara. Sejak itu pula, sastrawan dari berbagai daerah menulis dalam bahasa Indonesia, mengantarkan bangsa Indonesia meraih kedaulatan sebagai bangsa yang merdeka.

Bahasa Indonesia adalah pilihan yang sangat nasionalistis. Dengan semangat itu pula para penyair memilih menulis dalam bahasa Indonesia, sehingga puisi secara nyata ikut membangun kebudayaan Indonesia. Nasionalisme kepenyairan ini kemudian mengental pada Chairil Anwar, yang dengan spirit kebangsaan berhasil meletakkan tonggak utama tradisi puisi Indonesia modern.

Sebagai rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah menganugerahi bangsa Indonesia dengan kemerdekaan dan kesusastraan, sekaligus untuk mengabadikan kenangan atas puisi yang telah ikut melahirkan bangsa ini, kami mendeklarasikan tanggal lahir Chairil Anwar, 26 Juli, sebagai Hari Puisi Indonesia.

Dengan ditetapkannya Hari Puisi Indonesia, maka kita memiliki hari puisi nasional sebagai sumber inspirasi untuk memajukan kebudayaan Indonesia yang modern, literat, dan terbuka.

Pekanbaru, 22 November 2012

Teks deklarasi tersebut dibacakan oleh Sutardji Calzoum Bachri, pujangga Indonesia terkemuka, pada puncak Pertemuan Penyair Indonesia I di Riau. Pada acara itu, sebelum momen deklarasi dan pembacaan puisi, Musyawarah Penyair Indonesia digelar lebih dulu.

Terkait pengambilan tanggal lahir Chairil dan bukan tanggal kematiannya yang menjadi Hari Puisi Indonesia, Hasan menjelaskan, “Ya tanggal lahirlah. Kematiannya kan tragis –nggak punya alamat, miskin, komplikasi penyakit, dan lain-lain.”

Hasan menambahkan, “Mungkin kita belajar pada hari musik. Tanggal lahir WR Supratman yang diambil sebagai Hari Musik Indonesia.”

Chairil Anwar, pelopor angkatan 45. (Foto: Wikimedia Commons)

Hasan menjelaskan pemilihan sosok Chairil untuk Hari Puisi Indonesia tak lain karena kepoloporannya dalam bahasa dan sastra Indonesia. “Kita harus memilih tanggal nih. Ketika kita menyebut tanggal itu, menyebut nama itu, menyebut peristiwa yang terjadi pada tanggal itu, itu adalah mengingatkan kita, nggak ke mana-mana kecuali pada puisi. Kita nggak ketemu hal lain kecuali Chairil Anwar,” jelas Hasan.

Dipilihlah tanggal lahir Chairil Anwar, 26 Juli, sebagai Hari Puisi Indonesia. Selain karena kepoloporannya, pemilihan Chairil pun karena totalitasnya dalam menggeluti dan menghidupkan puisi. “Dan puisi itu berarti, berharga, dan Chairil mengorbankan seluruh hidupnya, totalitasnya pada bahasa, pada puisi,” terang Hasan.

Namun, Hari Puisi Indonesia bukan ditujukan untuk sekadar merayakan Chairil. Hari Puisi Indonesia pada akhirnya adalah milik semua yang merawat puisi dan mengembangkan bahasa. Entah sebagai pencipta, penyair, maupun pembaca.

“Mungkin juga teman-teman di dunia musik berdebat soal itu. Tapi ketika ditetapkan kan intinya sebenarnya bukan untuk Chairil atau WR Supratman, tapi untuk orang-orang yang sekarang sedang merawat puisi, orang-orang yang sekarang sedang menumbuhkan puisi.”

Sumber : Kumparan.com


Kirim Puisi Tanpa Login

Dibaca 43 x, hari ini 1 x

Post Comment