Malam Valentine’s Day

tears candle
tiga belas februari yang kelam
mendung memayungi persada seiring titis air hujan
separuh jiwaku telah pergi
bersama airmata yang luruh membasahi bumi
meja tempat kita dulu senantiasa bersama
kini terasa hening tanpa candamu
cinta yang kita rajut bersama
terurai bersama angin yang menjauh
tersekat dinding yang memisah jarak
terkurung dalam dimensi yang berbeda
getaran asmaramu sayup kurasa
terhalang api lilin kecil yang menemani
bayang wajahmu berpendar diatas gelas
sofa tampat kita bersandar yang dulu sempit
tanpamu kini terasa longgar
tak terbayangkan bila aku tertatih menyusuri rindu
tak pernah kusangka bahwa semua mimpiku musnah
jemari tanganmu yang lentik tak lagi bisa kugenggam
bulat wajahmu tergantikan rembulan di atas awan
aku tak biasa menangis sendiri
tapi aku juga tak bisa bersembunyi
dari sejuta rasa kehilanganmu
dari selaksa tembang yang dulu kau nyanyikan
sempat aku bertanya pada langit yang diam
masih adakah cinta semanis yang kau punya
sementara belalang tersenyum memandangku
mencoba menghibur hati yang remuk redam
bagaimana aku bisa temukan jalan
bila lentera tak lagi memberi cahaya
aku terbiasa bicara pada dinding kamar
teman setia saat aku larut dalam kepedihan
valentine’s day yang indah bagi sepasang kekasih
bagiku hanyalah sebatas dongeng dari negeri khayalan
meski kubaca selaksa puisi karya pujangga ternama
namun tak sanggup membasuh hati yang terbalut sedih
musisi jalanan dendangkan lagu tentang asa yang hilang
menambah dalam jurang penderitaan
kupandangi bintang yang redup cahayanya
sebagai pertanda ikut merasa getir jiwa
kusadari bahwa cintamu tak kan pernah sirna
waktu mengalir tanpa pernah berulang
meski aku tak bisa memelukmu lagi
sepenggal doa ingin ku titipkan kepada merpati
agar hinggap di peraduanmu yang damai
bila suatu saat nanti aku datang menjengukmu
peluk erat tubuhku dan jangan pernah kau lepaskan
#donibastian – lumbungpuisi
GF, 13/02/2016



Kirim Puisi Tanpa Login

Dibaca 42 x, hari ini 1 x

Post Comment