Manusia Gerobak

 

manusia gerobak

lelaki itu nampak menarik gerobak beroda
dibawah terik matahari membakar kulitnya
peluhnya meleleh dileher membasahi kerah
menapaki jalan raya ditengah cuaca gerah

dibelakang istrinya mengikuti langkah seiring
sesaat ingin berteduh dibawah pohon beringin
lelaki itu menengok anaknya sedang terbaring
dalam gerobak setengah tertutup selembar kain

lelaki itu mencari alas sekedar untuk duduk
secarik koran bekas diambilnya lalu digelar
anak semata wayangnya masih nampak meringkuk
sejenak terbangun karna perutnya menahan lapar

ibunya meraih seikat nasi bungkus sisa tadi pagi
masih ada terselip sepotong ikan asin dan sambal
anak itu disuruhnya makan nasi yang sudah agak basi
sudah terbiasa tak takut sakit perutnya sudah kebal

lelaki dan istrinya itu kemudian duduk berdampingan
kedua tubuhnya tersandar dibatang pohon melepas lelah
dua manusia itu nampak rukun meski hidup kekurangan
bertahan hidup di jakarta ternyata tidaklah mudah

manusia gerobak melawan gelombang setinggi gunung
berjuang menyambung nyawa di jantung metropolitan
pergi dari kampung halaman sekedar mengadu untung
untung tak dapat diraih terdampar dipinggiran jalan

manusia gerobak adalah pemilik jiwa yang merdeka
pergi mengembara kemana saja bersama gerobaknya
biar hujan deras menerpa tak menyurut langkahnya
bermandi cahaya terik mentari sudah hal yang biasa

menusia gerobak tetap menyimpan secercah asa
masih adakah kesempatan memperbaiki nasibnya
ditengah hiruk pikuk dan ganasnya kota jakarta
sampai sejauh mana mampu menjalani hidupnya

semoga saja tuhan segera memberi petunjuk arah
kemana kaki mereka seharusnya pergi melangkah
bila memang kota jakarta tak punya sikap ramah
lebih baik pulang kedesa menanam padi di sawah

.oOo.


Kirim Puisi Tanpa Login

Dibaca 624 x, hari ini 1 x

Post Comment