Malaikat Patah Sayap

malaikat

aku adalah malaikat yang tersesat jatuh kebumi
sayapku patah dan tak sanggup terbang lagi
tubuh dan aliran darahku lunglai tak bernyali
diam termangu pasrah menunggu datangnya mati

disurga kawan kawanku melambaikan tangannya
seakan mengejek dan menebar senyuman  sinis
meraka tak pernah tahu apa yang terjadi didunia
menolak asam apel malang, memilih anggur manis

disini aku melihat peminta minta riuh berkeliaran
menghisap debu panas membara dipinggir jalan
berjalan lemah membawa bekas kaleng minuman
sebagai topeng kepedihan memancing belas kasihan

sementara orang berdasi tengah sibuk lalu lalang
menenteng tas koper hitam berisi penuh uang haram
matanya menatap keatas beteriak nyaring menantang
dia bertanya mengapa proyek impiannya terbenam

didalam gedung berudara sejuk hasil olahan pabrik
lelaki gemuk berjas hitam menyandarkan kepalanya
tak peduli ocehan para ketua diatas mimbar kritik
bunyi dengkurannya merambat sampai ke ujung aula

siapakah mereka, aku bertanya pada diriku sendiri
tak tersisa sebatang rumputpun mau kuajak bicara
lenguh nafasku yang bersih suci beraroma surgawi
tak laku lagi bagai sekeping uang jaman belanda

bagaimana bisa para pemuka tertawa bercanda ria
sedangkan rakyatnya meringis menahan luka dijiwa
darimana mereka dapatkan uang yang mereka tebar
sedangkan itu milik pengemis tua yang terkapar

aku heran dengan apa yang telah terjadi disini
mengapa mereka tak acuhkan secarik kertas suci
dibiarkannya sobek compang camping berceceran
bercampur koran bekas tercoreng gosip murahan

bukankah langit tak hentinya memanggil mereka
agar kembali berjalan menuju arah pelita hati
matanya terbuka lebar sedangkan nuraninya buta
yang terpikir hanya mengisi kantong dengan pundi

aku tak tahan lagi terlarut dalam admosfir dosa
karna kuterbiasa bernafas dalam kedamaian nirwana
tapi aku tak mampu berkata dan berbuat  apa apa
karna sayapku telah patah dan tak lagi berdayaguna

Tuhan, sembuhkanlah luka pada kedua sayapku ini
agar aku bisa  pulang kembali menuju gerbang langit
aku tak sanggup menahan perih melihat yang terjadi
dunia ini sudah semrawut dan sungguh sulit terkendali

semoga masih tersisa perjuangan dijalan kebenaran
merajut asa yang berserakan di atas kemunkaran
langkah kecil para pemuda berhati mulia didepan
sebagai pedoman penunjuk arah menuju keselamatan

.oOo.


Kirim Puisi Tanpa Login


Dibaca 841 x, hari ini 1 x

Post Comment