Sajak untuk Tuan Calon Presiden

kemiskinan-kompas
Yang Mulia Tuan Calon Presiden
kami disini hanyalah serumpun ilalang
yang tumbuh disudut dusun dusun kecil
disela percik air bening yang mengalir

kau nampak berdiri dipuncak bukit mencakar langit
gemuruh suaramu memecah keheningan pagi
menebar nyanyian surga ke segala penjuru
sekedar memikat hati belalang dan kupu-kupu

nada bicaramu seperti layang-layang
melayang-layang dan tak membumi
sedangkan kami adalah rumput ilalang
yang tak pernah tersentuh sama sekali

sekian lama kami terjebak dalam kemiskinan
musim berganti namun tak membawa arti
bergelut dengan penderitaan dan kepedihan
santapan kami sejak pagi hingga petang hari

mengais sebutir nasi dalam lapar dan dahaga
sudah biasa dan menjadi cerita sejak lama
pucuk pucuk daun tak lagi mampu bertunas
mengering diterpa angin dan kemudian kandas

batin kami ingin menjerit
namun tak mampu terucap
dari bibir kami yang terikat
terbuai mimpi dalam tidur lelap

sampai kapankah kisah ini akan terus kami dendangkan
sedangkan masih tergiang suaramu yang lantang
laksana merindu setitik air hujan
ditengah musim kemarau yang panjang

Tuan Calon Presiden yang kami banggakan

bukan untuk sebongkah emas dan berlian
cukuplah bagi kami melihat anak-anak angsa
tersenyum riang bermain bersama dihalaman
seperti mereka yang tinggal di singgasana kota

tengoklah sebentar sawah ladang kami yang gersang
peluklah kami yang menggigil dicekam kesulitan
apakah ini memang sudah suratan takdir
bahwa kami harus terus berada dititik nadir

lihatlah diatas kasur papan di bilik belakang
anak-anak kami terkulai lemah
merintih pedih minta makan
disudut matanya menyimpan tangis
wajahnya sayu menahan perih

nyanyian surgawi yang kau lantunkan
hanyalah hiburan dibawah bulan purnama
mengantarkan kami ke peraduan
esok pagi tiada lagi yang tersisa

ayam jantan berkokok sebagai tanda
bahwa hari telah menjelang pagi
malam panjang terlewat begitu saja
kami terjaga dan tersadar dari mimpi

masih adakah pintu harapan yang terbuka
untuk kami menyambut masa yang berbeda
tinggalkan jejak langkah yang telah lalu
menuju gerbang kehidupan yang baru

bila masih ada kesempatan untuk bicara
ijinkanlah kami menitipkan secarik pesan
bolehlah kiranya tuan melesat terbang ke angkasa
namun janganlah lupa mengajak kami turut serta

.oOo.


Kirim Puisi Tanpa Login

Dibaca 184 x, hari ini 1 x

Post Comment