Balada Pelacur Tua

pelacurtua ada perempuan yang tak muda lagi
punggungnya bersandar di sebongkah sofa biru
dipakainya rambut palsu terpoles warna kuning padi
berkilau cemerlang diterpa cahaya lampu

bibir merah hasil goresan gincu murahan
gaun panjang terjuntai luruh menyentuh lantai
dadanya menyembul separuh tertutup kain sebagian
dibalik taburan bedak putih menyamar legam kulitnya

wajah nan sayu diperagakan meraih simpati tamu
sesekali disibak rambutnya yang panjang
seraya melirik seorang lelaki di sudut ruang
berharap dia kan datang mengajaknya berkencan

Tak mampu bersembunyi dibalik rasa iri
tatkala lelaki itu menghampiri temannya yang muda
menahan gundah hati mencoba menenangkan diri
seketika tatap matanya tertunduk kebawah meja

detik waktu trus berjalan mengiringi langkahnya pulang
malam berlalu sendiri tanpa satupun menemani
untuk kesekian kalinya tak bawa uang
sepanjang jalan airmatanya terbuang

dalam setiap hentak langkahnya merenungi nasib
betapa hinanya bergaul malam dengan aib
disaat usianya sudah menjelang senja
perempuan itupun baru menyadarinya

usaha berjualan tubuh tak laku lagi
tergilas persaingan teman sendiri
berbagai cara dilakukannya
percuma saja tubuhnya sudah tua

perempuan itu rebah diatas ranjang kayu
didalam sebuah bilik sederhana nan usang
dicekam kepedihan bercampur rindu
teringat buah hatinya yang semata wayang

diraih sebuah gambar anaknya yang tertinggal didesa
terselip disela sela baju dibalik pintu almari
dipandanginya gambar itu dengan mata berkaca kaca
bergumam lirih dari bibirnya,” nak, ibu sudah tak tahan lagi..”

seketika airmatanya mengucur deras
bersama isak tangis yang mengiris hati
terduduk, terkulai lemas diatas ranjang
menyesali diri berniat besok pagi akan pulang

sebaris doa yang lama tak terucap
kini dia berusaha mengingatnya
bibirnya bergetar saat berkata
“Tuhan ampuni aku, atas segala dosa dosaku”

.oOo.

Headline di Kompasiana.com



Kirim Puisi Tanpa Login


Dibaca 500 x, hari ini 1 x

Post Comment