Istana Pasir

13673949441857134026_300x199.63636363636aku kembali berada disini, dipantai ini sekian puluh tahun lalu
masih terang diingatanku kala kau berbaring tepat disebelahku
cahaya mentari sore itu tertutup segumpalan mega diangkasa
pantulan sinarnya nampak lurus condong ke arah barat daya

bayu berdesir menyentuh jantung mengajakku terbuai rayuan rasa
kupandangi wajahmu yang makin indah saat menyatu panorama pantai
sesekali kedua matamu mengeriyip menahan percikan debu pasir menerpa
bersama dengan kau sibakkan rambutmu yang hitam terurai

telapak kakimu telanjang masih ditaburi pasir halus
kedua kakimu yang panjang juga tampak putih mulus

aku mengajakmu memandang istana pasir yang baru kita bangun
berdiri megah sebagai simbul jerih payah kerja kita seharian
dari bibirmu kau katakan bahwa itu adalah perlambang kisah cinta kita
istana pasir itu kelak akan terwujud nyata bila kita mampu mempertahankannya

tak tarasa mentari perlahan mulai tenggelam
sinarnya temaram menubruk sederet bukit karang
air laut mulai pasang mengantar riak gelombang
seakan ingin menyentuh bangunan istana pasir milik kita

aku kemudian berdiri dan mencoba memelukmu dari belakang
agar aura kemesraan makin menggelora diantara kita
sambil menikmati tenggelamnya matahari di seberang
kita berjanji untuk saling percaya dan setia selamanya

ditengah kamu dan aku terbuai dengan indahnya suasana
mataku sempat melirik pada bangunan istana pasir kita
aku terkejut tatkala melihat sebagian telah ambruk
tergerus debur ombak yang berulang kali merasuk

aku merasakan dihatimu ada sebuah kekecewaan
melihat istana pasir milik kita hancur berantakan
digulung ombak pantai yang tak kita sangka sangka
apa yang telah kita bangun seharian kini sia sia

terpikir oleh ku apa yang telah kau ucapkan
istana pasir itu adalah perlambang kisah kasih kita
aku tak percaya dan berharap ini hanyalah kebetulan
namun apa yang terjadi membuatku gelisah

aku terhenyak mendengar suara anak kecil memanggil manggil
“papa.. ngapain sih pa disitu, ayo kita jalan lagi.. ”
seketika bayanganku buyar, seperti bangun dari mimpi
ketika anak gadisku menarik tangan dan mengajakku pergi

aku berjalan menyusuri bibir pantai itu
sambil menggandeng tangan anak semata wayangku
dikejauhan aku melihat ibunya sedang menunggu
bibirnya tersenyum dan memandang ke arahku

benar apa yang dulu pernah dikatakannya
istana pasir itu perlambang kisah cinta
telah runtuh ditelan ombak pantai
semuanya telah terbukti nyata

istriku sekarang bukanlah dia

 


Kirim Puisi Tanpa Login


Dibaca 692 x, hari ini 1 x

Post Comment