Prahara Penari Sintren

penari

 

 

Turun-turun sintren

Sintreni widadari

Nemu kembang ning ayunan

Nemu kembang ning ayunan

Kembang siti mahendra

Widadari temurun ngaranjing nik awak ira.

 

Lagu itu sudah kurapal berkali-kali dan kadang bagai sembilu yang segera menusuk jantungku , aku masih saja enggan tuk beranjak..

Malas yang mendera tak pernah memikat pawang tuk tetap memaksaku untuk terus menari-nari dalam pengaruh roh

Tapi pernahkah ,ada yang mengerti akan diriku yang merasa terpasung dalam jiwa yang bukan jiwaku?????

Aku muak ,ingin kuberlari lepas dari prahara yang mengikatku kuat , hanya untuk sesuap nasi bagi keluaga

Aku korbankan cita-citaku hanya untuk menjadi sintren abadi, tahukah amarah selalu membuncah dalam diriku

Tapi aku tak mampu merentang ruang antara aku dan pawang, yang ada hanya bergumul dengan hati-hati masing-masing …

 

 

Kini aku hanya mampu terperangkap dalam lantunan sunyi ditengah keramaian penonton sintren…

Gerakanku membius dan menghantarkan hati yang gundah dalam dekapan keputusasaan yang menjerat

Tapi semua itu kian meranum dalam benakku dan meluruh menjadi kepingan-kepingan lara yang membentang dalam sejumput hati kecilku

Belum ada yang mengerti?????

Tak ada satupun yang dapat menapaki jejak-jejak hatiku , tak ada yang mampu merekatkan kembali kepingan asa yang hilang

Tetap saja sinden melantunkan lagunya tanpa berhenti, terus.dan terus sampai kulelah dalam potongan ruh yang aku sendiri tak tahu siapa

Aku tetap menari tak mau berhenti lagi…….

 

 

Semua mata menembus sukmaku, tatapannya seperti menyengat raga yang mulai lelah bergerak terus menerus

Tapi aku tak mau berhenti walau sinden sudah menghentikan kidungnya sejak tadi , aku masih menghitung ketukan untuk terus menari…

Penonton mulai ketakutan dan mulai berteriak-teriak , dan kuhanya dapat melihat bayang-bayang hitam yang menyelesap seperti hantu

Kini kumampu meletupkan rasa marahku dan ruh itu membantuku menyengat , dan membuat degub jantungku semakin kencang

Perih mendera diantara riuhnya suara yang berupa gaung dalam telingaku sampai terpekak menembus gendang telingaku

Kini semua lenyap dalam hitungan detik, hitam, kelam yang menaungi tubuhku yang mulai lemah dan kini hanya bisu yang tertinggal dalam kematian ruhku.

Cirebon ,22 Agustus 2014

Sumber gambar:http://travelmatekamu.com/2014/05/21/aroma-mistis-dalam-tarian-sintren/

 


Kirim Puisi Tanpa Login

Dibaca 165 x, hari ini 1 x

Post Comment