Seberkas Cahaya Purnama

suasana malam mencekam kembali terbuka oleh waktu
sekelompok burung gagak sedang mengatur angka palsu
ranting-ranting saling bergesek mencari untung sendiri
anak gelatik menangis kehilangan tempat bersembunyi

rumput ilalang ikut berlomba memperpanjang daunnya
sebagai cara untuk meraih tetes hujan yang bukan miliknya
akar rumput menggeliat kesakitan tergilas kejamnya tirani
yang dibangun dari perasan keringat saudara mereka sendiri

harimau dan singa bertarung demi bangkai ayam kampung
bau busuk makin menyeruak di antara kedua mulut mereka
pelanduk di tengah hanya sebatas penonton aksi panggung
mereka tak tahu bagaimana dan tak bisa berbuat apa-apa

di tengah perputaran roda yang makin jauh tersesat arah
hendak kemanakah negeri ini akan mereka bawa serta
anak-anak angsa menjerit memanggil-manggil rembulan
berharap turun seberkas sinar yang menembus kegelapan

kini tiba saat bulan purnama hadir mengusir problema
membuka tabir rahasia alam yang selama ini meraja
cahaya kuning keemasan menembus pekatnya malam
sinarnya lurus dan murni bagai sebilah pedang tajam

cahaya purnama tak kenal kata kompromi
tak peduli pada apapun yang menghalangi
baginya bumi harus senantiasa dilindungi
kepekatan malam harus segera dibasmi

cahaya purnama adalah pelita ‘tuk meraih asa
menerangi setiap sudut yang selama ini gulita
menghapus segala bentuk permufakatan jahat
mengusir tikus-tikus yang mencuri uang rakyat

wahai cahaya purnama,
yakinkan dirimu bahwa kaulah yang kami rindu
sudah cukup lama kami terpenjara oleh derita
kepadamulah kami titipkan masa depan bangsa

#donibastian – lumbungpuisi
GF 7/3/2016


Kirim Puisi Tanpa Login

Dibaca 65 x, hari ini 1 x

Post Comment