Sekarang Giliranmu, Tuan

kemiskinan-
Aku tahu, bagaimana engkau merasakan kekecewaan yang teramat mendalam,
saat kau terkubur bersama karirmu yang cemerlang itu.

Akupun tahu, bahwa ketika engkau di vonis melarikan diri dari kejaran publik,
sama sekali kau tak berniat untuk bersembunyi.

Aku tahu, kau adalah satu satunya mahkluk Tuhan yang kala itu,
tak pernah sekalipun punya rasa takut.

Sebagai seorang laki laki sejati, kau bertekad untuk terus maju,
menghadapi kenyataan  dan melawan segala bentuk kemunafikan.

Kala itu, kau hanya ingin menyendiri,
menenangkan diri,
dan terus mencari mengapa itu semua bisa terjadi.

Hingga akhirnya kau temukan jawabannya.
Dan kaupun  harus segera kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Negeri ini sudah semakin rapuh, Tuan.  Serasa mau runtuh
Banyak yang berjanji,
namun sebanyak itu pula mereka mengingkari janjinya sendiri.
Banyak yang diberi kepercayaan,
tapi sebanyak itu pula mereka membuat pengkhianatan.
Kami bersedih, kami sungguh amat kecewa.

Kami telah terpuruk, tersungkur didasar jurang kemelaratan.
Ibu Pertiwi tak henti hentinya menangis.
Air matanya mengucur deras, menyaksikan penderitaan batin
yang mendera setiap orang yang dulu pernah memberi mereka dukungan.

“Wajah wajah dusta, masih tega tertawa..
Sementara korban merintih, dikedua kakinya”

Setelah engkau jauh berjalan,  menuruni bukit dan ngarai yang terjal,
melawan ombak dan badai yang menyerang kehormatanmu, engkau kini sudah hampir tiba.

Disebuah perbatasan, dimana dihadapanmu,
sekian ratus juta kepala sedang tertunduk lesu,
mereka tersimpuh lemah tak berdaya,
dihempas tatanan yang tak pernah bepihak pada mereka.

Digilas keserakahan orang orang,  yang dulu mereka pilih  sendiri
Mereka telah lama memendam  rindu,  menunggu kedatanganmu.

Segeralah melangkah, usaplah kami, dekaplah kami,
agar kami bisa terlepas dari dinginnya kebijakan
yang tak pernah sedikitpun menyentuh kami.

Datanglah wahai ksatria nan gagah perkasa.
Dipundakmu tersimpan ribuan harapan dari wajah wajah sayu
kami yakin engkaulah yang bisa, engkaulah yang mampu, engkaulah yang berani
Melawan semua penyelewengan, menantang semua kebobrokan,
memberangus  sistem  yang merampok uang rakyat.

Kini sudah tiba giliranmu, Tuan..
Kalau tidak sekarang, kapan lagi ?
Kalau bukan engkau, siapa lagi ?

.oOo.


Kirim Puisi Tanpa Login

Dibaca 64 x, hari ini 1 x

Post Comment