Syair Lagu Demokrasi Terkini

kampanye

dari sebuah negeri yang masih banyak belajar bernyanyi lagu demokrasi
tak lama lagi musim panen suara tiba di setiap ladang pekarangan mereka
terdengar kicau burung gelatik saling bersahutan demi membela harga diri
sementara ditepi jalan lembar kain butut tertancap di ranting pohon akasia

beraneka gambar wajah orang tersenyum sekedar ‘tuk memikat kumbang
sederet cuplikan pesan nampak tertulis namun menyirat makna sumbang
sedang disudut jalan sekelompok anak ingusan dipaksa ikut masuk kandang
tak tahu apa yang harus diperbuat yang penting bisa dapat beras segantang

makin riuh suara para orang tua berebut kursi yang sebentar lagi akan kosong
sejenak lupa bahwa masih banyak anak-anak muda yang bisa menggantikannya
tinggi gunung seribu janji sudah tak laku hanya menggelar mimpi di siang bolong
batang kelapa yang kering dan lapuk masih saja di pakai sebagai tiang penyangga

sudah bisa disangka bila diantara ilalang kemudian menyeruak seekor kuda hitam
yang meringkik patuh dibawah kendali perintah sang dewi penguasa negeri di awan
akar rumput kembali bersorak bagai menyambut datangnya rombongan artis impian
laksana rinai hujan turun membasahi bumi yang tlah lama menunggu seuntai harapan

perhelatan tari topeng sudah mulai digelar sampai ke pelosok desa
ditonton ribuan angsa yang tak tahu wajah mereka sesungguhnya
liang kuping mereka dijejali naskah orasi demi mendukung para kurawa
irama hati suci terdengar samar tertutup busana kebesaran penguasa

telah berkibar diangkasa dua belas panji yang mengusung nama
meski diantaranya sudah miring dan tak layak lagi di bentangkan
nampak muka pucat menyirat punggawa yang merasa dikhianati
sepenggal janji yang dulu pernah tercatat kini tiada berarti lagi

berlindung dibalik nuansa dinamika politik yang sedang terjadi
teguh kukuh menangkap kesempatan yang tak datang dua kali
mumpung cahaya bulan purnama kian besinar menerangi kegelapan
tak sabar menyambut mimpi yang akan segera menjadi kenyataan

disini aku melihat seekor anak ayam bertanya kepada induknya
“ibu, hari kita makan apa, sedangkan sebutir padipun tak ada”
kedua mata sang ibu kembali membasah sambil mengucap kata
“percayalah nak, sebentar lagi akan ada perubahan yang nyata”

.oOo.


Kirim Puisi Tanpa Login


Dibaca 516 x, hari ini 1 x

Post Comment