waktu begitu cepat berlari
tingggalkan bercak langkah
kian panjang tak beraturan
pesan ibunda masih tertanam
sebagai lentera dalam kegelapan
terkurung dalam pusaran keangkuhan
anak angsa yang lugu dan murni
kini mulai beranjak liar dan berani
paruhnya yang dulu tampak tumpul
sekarang makin tajam dan runcing
bermain di sela rumput ilalang
terlarut dalam kubangan lumpur
mata hatinya yang dulu bening
kini perlahan keruh dan luntur
rumput hijau senantiasa menyapa
terdengar namun tak didengarkan
berdiri tanpa menapak bumi
melaju tanpa peduli rambu
bisikan nurani telah tercampakkan
demi meraup kepingan harta
sejenak terlupa janji kepada bulan
terlena kilauan cahaya kekuasaan
tak sadar diri meniti jalan berbuih
yang basah dan dingin menyegarkan
batu kerikil tajam merobek telapak kaki
tergelincir ke dalam parit kebodohan
karam di dasar lautan caci maki
telanjangi sekujur badan
terkuak serpihan aib masa lalu
menambah panjang catatan hitam
angsa liar itu meringkuk di sudut bilik bambu
terkualai lemah menanggung beban tuduhan
kedua tangannya mencoba meraih bibir jurang
memanggil kawan lama tuk sekadar berbincang
mendung gelap tak urungkan turun hujan
menggigil sendiri di malam penantian
menunggu selembar daun yang luruh
berjuta mimpi telah pergi menjauh
teringat lagi bisik ibunda menjelang tidur
yang lama tak pernah terlintas dibenaknya
rasa sesal dan gelisah menyelimuti jiwa
batin menjerit namun tak mampu bersuara
sebaris doa tertulis di dinding kamar
sebagai penawar rindu kepada langit
menjelang garis batas akhir kehidupan
berharap terhapus dosa yang menghimpit
.oOo.
@donibastian – lumbungpuisi.com
highlander 5/2/2015