Home / Politik / Mimbar Kepalsuan

Mimbar Kepalsuan


di atas mimbar kau bernyanyi lagu tentang fatamorgana
berbicara soal pembangunan demi kepentingan rakyatmu
tapi rakyat mana yang sesungguhnya kau ingin kau bela
sementara akar rumput terlanjur larut dalam angan semu

untaian kata bergulir mesra dari lobang mulut sang penguasa
menebar aroma wangi bunga-bunga janji yang tak ditepati
baju sederhana yang kau pakai hanyalah sekadar topeng semata
membungkus pribadi yang sejatinya haus akan ambisi duniawi

ayo pilihlah aku untuk kedua kali
kalimat itu-itu saja yang kau punya
disambut sorak sorai rakyat menimpali
yang percaya bahwa semua baik-baik saja

di balik dinding gedung tinggi tempatmu berada
gubuk reyot bergoyang tertiup angin pengharapan
berharap setetes kemakmuran yang tak kunjung tiba
setangkup asa yang terpendam tanpa ada kepastian

mungkin di dalam hatimu tersimpan sesuatu
yang tak terbaca oleh seluruh pendukungmu
tabir kepalsuan kau gelar disepanjang arah mata
demi menghela nafsu angkara untuk kembali berkuasa

aku ingin bertanya kepada langit yang diam
di antara galau hati memandang suasana ini
adakah waktu akan berpihak kepada kebenaran
mampu membawa keadilan bagi seluruh negeri

ibu pertiwi sedang bersusah hati
airmatanya menetes jatuh ke bumi
tumbuhkan benih-benih jiwa ksatria
yang bergerak serentak memadu suara

kami muak dengan sandiwara yang kalian mainkan
kamipun tak rela jika negeri ini kau gadaikan
panggung elit sudah terjejali pejabat korupsi
mengatur siasat busuk demi kepentinganmu sendiri

kami punya seorang berjiwa ksatria
gagah berani membela nusa dan bangsa
menyandang amanah penderitaan rakyat jelata
‘kan membawa ke gerbang kemakmuran yang nyata

kami terus berjuang tanpa henti
jika tidak sekarang, kapan lagi..
Kami yakin akan menang
bersama Prabowo-Sandi..

#donibastian


Kirim Puisi

Dibaca 4 x, hari ini 1 x

About Doni Bastian

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

x

Check Also

“CEMBURU”

Oh, cemburu Cinta berbelenggu Perasaan memiliki itu mengubah rela menjadi paksa menjajah ...