Bias Cahaya

Tak kupungkiri saat-saat tangan ini mulai merajai di lembaran kosong… Menari-nari dalam sentuhan imajinasi alam fisika dalam ruang dimensi pembiasan Menjelma menjadi alunan melodi yang bersahaja mengasikan tanpa ada beban….   Engkau masih dengan rajutan soal pembiasan Tak lupa kau…
Pahlawan Itu…

Pahlawan itu bukan hanya memanggul senjata Untuk melawan penjajah… Tapi bisa menjadi bagian dari negara ini Dengan hati yang tulus Mengabdi…   Tebasan angin yang kencang dalam liku kehidupanmu Pantang menyerah tuk gapai asa tuk negeri ini Inilah pahlawan sejati…
Dia Suka Jingga

Dia suka jingga, karena saat itu senja mulai tiba senja membuatnya terlena dengan warna-warna jingga yang merona menyapu langit tiap  dia tatap jingga selalu ada desiran di hati   Dia ingat seuntai kalung dia sematkan di jenjang lehermya sihir cintanya…
Satu Hati, Satu Jiwa

Lentera kegelapan sampai saat ini masih menjuntai, aku lelah Aku masih terbaring dengan pikiran yang kalut, yang ada puing-puing di kepala Saat kita mulai terpecah belah karena sara, karena berita hoax, adakah yang menyesal???/ Sisa isak tangis yang masih tersisa…
Dentingan Rayuan Alam

Pinus-pinus yang melambaikan ranting-rantingnya tampak membuatnya menari-nari bersama angin yang mulai bertiup kencang Di saat butiran embun yang mulai mencair saat mentari mulai tampak menyembul dalam remang-remang pagi. Siluet panorama yang indah membentang diantara eloknya air terjun yang jatuh mencipratkan…
Jeruji Kesunyian

Aku masih memandang dari balik jeruji ini Hanya berteman dengan kesunyian, dia yang masih setia denganku Tak pernah ada  geliat yang membuatmu kesal padaku Seutas kegelisahan selalu menyapaku hari demi hari Rinduku pada sesorang yang membuat hatiku mengapung dalam kedustaannya.…
Petaka Cinta

Andai kau tahu aku bertahan hanya karena buah hatiku Keinginanmu tuk menikah lagi membuat sentakan pada gejolak jiwa yang terus saja berdengung di telingaku Andai saja kau tahu ,ingin kularang engkau pergi, rasa cemburuku begitu kuat yang menghantam sendi-sendi hatiku…
Perempuan Di Ujung Senja

Di lembayung senja perempuan itu selalu berdiri di teras depan rumanhya Menjemput senja dengan asa penuh pusaran rindu akan anaknya Tapi ia setia merindu dalam sepi bertemankan temaram sore Berkalungkan pilu Binar matanya mulai meredup saat sore menjelang malam Anaknya…
Butiran Debu

Butiran debu masih ada di bahunya yang sekarang sudah gersang entah kenapa debu masih suka dengan bahumu embun pagipun sudah enggan datang di bahumu   Tapi riak-riak awan tetap menyelimuti dirimu dalam naungan panas mentari yang terik kering kerontang yang…