“DEMI HATI, AKUI ILUSI”

Setengah-mati kucoba yakinkan diri

bahwa kau hanyalah ilusi

Bila nyata, kau hanya akan melukai

terutama saat kau pergi

 

Ah, penyangkalan memang bisa indah

Tak perlu bertarung sampai lelah

hingga kemudian tenggelam dalam gundah

meski sumpah, kadang rasanya muak saat kalah

 

Maaf, aku harus percaya ini tidaklah nyata

Sudah terlalu sering kecewa

Kadang lebih baik memang berpura-pura

bahwa kita selalu baik-baik saja

hanya agar tiada yang (terlalu) kecewa maupun terluka…

 

R.

(Jakarta, 17 Oktober 2015 – 12:35)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.