Home / Puisi (page 20)

Puisi

Hujan, Desember dan Cinta (versi revisi)

Intuisi cinta Dalam sunyi hati menggelora Teriakkan sebuah makna Semeriah nafiri menyambut Raja Roman Bukanlah fiksi yang lahir dari kecelakaan Namun ketidakcakapan rasa Dalam menerka Jadikan cinta seolah jalan menuju celaka Dan dari imaji logis, mataku terbuka Kita tengah berada ...

Read More »

“TIDAK CUKUPKAH?”

Sendirilah kau, dengan segala kekuranganmu Cukup hanya kau dan Tuhan yang Maha Tahu Tiada gunanya malu Dia selalu awas akan segala cacat dan cela itu   Mereka juga tahu, bahkan yang (mengaku paling) menyayangimu? Biar saja Biarlah mereka semua kecewa ...

Read More »

Di Saat Bersalah

Dalam detik-detik jumpa tak ada yang menagih tak ada yang merontah cuma keisengan Waktu mulai bergulir kata demi kata kalimat demi kalimat terangkai hingga menjadi sesuatu yang berarti kadang menyentuh kadang menuding Di saat bersalah ada getaran yang menginginkan sesuatu ...

Read More »

Hujan, Desember dan Cinta

Intuisi cinta Dalam sunyi hati bergelora Meneriakkan sebuah makna Semeriah nafiri menyambut Raja Roman Bukanlah fiksi yang lahir dari kecelakaan Namun ketidakcakapan rasa dalam menerka Menjadikan cinta seolah sebuah kecelakaan Imajinasi logis, akupun tersadar Kita tengah berada di atas panggung ...

Read More »

“HARI (UNTUK) IBU?”

Kapan terakhir kali kau menghargai beliau? Hari-hari sibuk dengan rutinitasmu sampai lupa jadwal bertemu seakan tiada sempat bertamu   Ah, hentikan basa-basimu dan segala puja-puji semu Bukannya mau menuduhmu palsu namun kapan terakhir kali menyenangkan beliau?   Banyak yang mudah ...

Read More »

Bintang Di Ujung Langit

Menciptakan malam penuh kerlap kerlip Menatap langit seperti terlihat lampu-lampu yang menyala Seperti terang yang datang Untuk menyapa manusia di saat dentang bel gereja berbunyi   Saat manusia berlutut untuk berdoa Di saat bintang masih terang di ujung langit Dimana ...

Read More »

“REALITA TENTANGMU…”

Ini bukan fenomena baru Kau sama saja dengan mereka menyalahartikan diamku dengan tidak berdaya dan mudah menerima   Baru kali ini aku benar-benar melihatmu Kau, yang sejati dan apa adanya Namun, masih ada rasa sayangku meski sadar, kau takkan selalu ...

Read More »

Menciptakan Lukisan Indah

Menciptakan Lukisan Indah Puisi : Edy Priyatna Air bagi penyair adalah unsur-unsur bahasa tulisan mengalir menembus jantung gunung menjadi renungan suatu angan-angan tanah bagi penyair adalah seluruh keadaan hidup batin Merasuk ke dalam tubuh tumbuhan menjadi kebutuhan keberlangsungan kehidupan api ...

Read More »

Lelaki Tua Di Teriknya Matahari

Panas terik mentari tak membuatnya mengeluh Walau panas memeluk ragamu yang kurus Demi sesuap nasi untuk keluarga Menghempaskan sebuah asa untuk hidupnya kelak Tapi itu tak membuatnya patah semangat   Panas mentari kian membias Peluh keringat tak kau hiraukan Dengan ...

Read More »